DESA TAWANG KEC.SUSUKAN KAB. SEMARANG

: jln. tawang gentan km 5 DESA TAWANG KEC.SUSUKAN KAB.SEMARANG | : 087836059798 | : tawangsusukan@gmail.com

Ragam Budaya Desa Tawang

 

            Desa Tawang yang terletak paling ujung timur dari Kabupaten Semarang,berbatasan dengan wilayah Kabupaten Boyolali.Desa Tawang terletak antara Desa Bakalrejo,Desa Timpik dan sebelah selatan Desa Ketapang. Masing-masing bagian dari wilayah Kecamatan Susukan,Kabupaten Semarang.

            Berbekal atas kekayaan Ragam Budaya di Desa Tawang,Desa ini sebenarnya pantas sekali masuk dalam kategori desa wisata. Ada beberapa ragam budaya dan adat istiadat yang ada di Desa Tawang,diantaranya adalah:

Ametri bumi desa,Langentayub/mujahadah,Sadranan,Spiritual,dan Kesenian serta sentral anyam-anyaman rakyat.

  1. Asal Usul Desa Tawang

Desa Tawang dahulu berupa padang ilalan, terhampar luas dan tanahnya kering, konon di situ tinggal seorang nenek yang bernama Nyi Wono.

Nyi Wono mempunyai saudara laki-laki bernama Kyai Agung Alim, yang tinggal di Jangkrikan Desa Rogomulyo.

Keduanya saling berlomba untuk memperluas lahannya dengan cara membakar padang ilalang tersebut, sedangkan Kyai Ageng Alim memakai sabit, sehingga mendapatkan lahan sempit. Oleh karena itu lahan yang didapakan Nyi Wono luas sekali, seolah-olah seperti awang-awang, maka dinamakan Desa Tawang Gantungan/Gunawang.

Suatu ketika Desa Tawang terkena musibah atau pagebluk (“Jawa”), kemudian para Sesepuh Desa mengadakan Ruwatan, maksud dan tujuan Ruwatan adalah untuk membersihkan Desa dari dari marabahaya dan musibah.

Ruwatan dilaksanakan pada hari Jum’at Legi dan sampai sekarang Upacara adat tersebut masih diperingati dan dilestarikan yang disebut dengan nama “ Bersih Desa “ atau “ Merti Desa”.

 

  1. Sejarah Pemerintahan Desa Tawang

Setelah Nyi Wono Melakukan babat alas, lambat laun daerah Tawang ada penghuninya, maka terbentuklah suatu pedukuhan yang bernama Tawangrejo, dengan nama pademangan Lewean ( jumlah penduduknya 25 orang ), dipimpin oleh seorang Demang bernama Mbah Mas. Dalam hidupnya Mbah Mas tidak mempunyai keturunan, maka setelah Mbah Mas meninggal pucuk kepemimpinan diganti oleh Mbah Kromo Yudo yang bukan orang Tawang asli. Setelah itu diganti oleh Kromo Redjo saudara KromoYudo

Setelah Mbah Kromo Redjo  meninggal, Lurah diganti oleh Kromo Hardjo, anak dari Kromo Yudo, dan kemudian diganti oleh Atmo Sutikno anak dari Kromo Harjo. Atmo Sutikno turun digantikan oleh cucu Kromo Yudo yang bernama Djojo Atmodjo, kemudian digantikan Lurah yang ke 7 ( tujuh ) yaitu Sumo Martono, cucu dari Kromo Atmodjo.

Itulah sejarah pucuk pemerintahan yang memimpin Desa Tawang, yang kurang dapat dijelaskan secara rinci hasil kepemimpinannya di Desa Tawang.

Sedangkan Kepala Desa ke 8 ( delapan )  sampai sekarang bisa dilihat dalam daftar berikut :

 

No

Periode

Nama Kepala Desa

Keterangan

1

Sebelum  1965

Admo Suharto Sutono

Sebelum Orde Baru

2

1966-1967

Naseri

PD Lurah selama 2 tahun.

3

1968-1989

Munayin Hadi Wiyono

 

4

1989-1998

DardiriHendro Parnomo

 

5

1998-2012

Syamsudin,S.Ag.

Menjabat selama 2         ( dua )   Periode

6

2013 – saat ini

Wiryanto

 

 

 

  1. Ametri Bumi Desa (Metri Desa)merupakan kegiatan rutin seluruh masyarakat Krajan Tawang(Tawang I,Tawang II,Tawang III, dan Tawang IV)yang dilaksanakan setahun sekali. Adapun harinya ditentukan pada Hari Jum’at Legi.Tempatnyapun ditentukan di Balai Desa Tawang,setelah warga masyarakat panen. Setiap melakukan upacara Ametri Bumi Desa (Metri Desa)pasti mengadakan Pagelaran Wayang Kulit semalam dan sehari. Dimulai setelah sholat Jum’at,Upacara yang biasa dilakukan pada hari itu diawali dengan berziarah ke makam leluhur desa,untuk berjama’ah melakukan ritual tahlil bersama di makam Keramat pendiri Desa Tawang Nyi Agung Warno sebagai cikal bakal.

Pada siang harinya setelah habis Jum’atan ± pukul 13.00 siang,atas waktu yang ditentukan mempersiapkan “Ancak”,yang oleh para leluhur mengandung makna:

A. Amestuti

N. Nunggal

C. Cipto

A. Amemayu

K. Karaharjan

 

Sabdanya leluhur,lestari hingga sekarang dari Generasi ke Generasi tetap dijunjung tinggi dan dilestarikan.

Agar warga Desa Tawang selalu di ridlahi oleh yang Maha Kuasa sebagai insan manusia wajib melakukan puji dan do’a dengan Nunggal Cipto agar diberikan keselamatan dan kebahagiaan.

Upacara Ametri Bumi Desa diikuti oleh 11 dusun,diantaranya:7 dusun yang berupa selamatan biasa dan 4 dusun (Tawang I,Tawang II,Tawang III,dan Tawang IV)berupa Ancakan.

Ancakan merupakan gunungan yang mengandung makna aneka ragam bentuk syukur  dan pariasi sehingga akan menarik perhatian semua yang melihatnya ditambah bendera kecil berwarna-warni,diatas gunungan terlingkar mahkota peni tidak ketinggalan di kreasikan dengan macam-macam buah-buahan hasil bumi, sungguh indah memikat dihati,semua ini atas berkat ridlo Allah SWT.

Didalam gunungan terdapat tumpeng bersama untuk selamatan “Ancak” di tandu (dipikul)keluar sesuai waktu yang telah ditentukan, diluar sana kesenian siap untuk mengiringi, baik itu reog dan tari-tarian atau kesenian lain secara berurutan, Ancak berjumlah 8 dari  desa ditandu berbaris menuju balai desa.Masyarakat yang mengiringi dengan berbagai atraksi yang dikemas berbagai macam cara.

Dilain pihak terdiri dari semua punggowo, ibu-ibu,bapak-bapak terdiri dari jajaran Perangkat Desa dan Lembaga Desa,berpakaian adat Jawa tersusun berbaris paling ujung depan Pembawa Obor,disusul dibelakang Cucuk Kirap (Manggaloyudo)disusul dibelakang remaja putri yang semuanya membawa sanggan majemukan,ingkung ayam Jawa membawa Tirto Gondo sate gecok,buah-buahan polo kependem,polo kesimpar,polo gumandul,dan tumpeng besar.

Dibelakangnya semua Perangkat Desa sekalian istri,paling belakang kesenian berjalan sesuai dengan irama budaya menuju balai desa untuk melakukan ritual do’a bersama memohon kepada Tuhan yang Maha Esa.

Tujuan melakukan tirual dan do’a:

  1. Dengan mengubur gicak dari 4 sudut Desa,sebagai perlambang meruat sangka kala (Merwokolo)yang menyebabkan penyakit atau gangguan terhadap seluruh warga desa Tawang.
  2. Dengan upacara Ametri Bumi Desa Tawang merupakan wujud rasa syukur atas berkah yang diberkian oleh Tuhan yang Maha Esa untuk semua warga Desa Tawang atas taufik dan hidayahnya serta innayahnya,sehingga warga desa Tawang diberikan keselamatan,ketentraman dan kesejahteraan adil dan makmur
  3. Dengan upacara Ametri Bumi Desa Tawang meupakan lambang kesatuan dan persatuan warga Desa Tawang pada umumnya.

Setelah dilakukan ritual dan do’a,masyarakat baik dalam maupun luar desa , saling berebut baik isi Ancak maupun variasi ancak, sebab ada kepercayaan siapapun yang mendapat akan memperoleh berkah.

 

Selain itu upacara Ametri Desa Tawang, berupaya untuk menjalin silaturahmi sesama kerabat saudara, tetangga dusun dan lain desa ,disamping melestarikan ajaran leluhur tentang kerukunan dan keakraban warga.

Kesempatan ini digunakan warga yang ada di perantauan baik dalam maupun luar Jawa untuk pulang kampung dan mengikuti ritual upacara Ametri Bumi Desa.

Masih bagian dalam ritual upacara Ametri Bumi Desa,Masih ada upacara “Rayah Berkah” dimana sesepuh Desa menyediaka tumpeng Agung dan Abon-abon ayam ingkung beserta rangken yang sedianya untuk para  pengunjung dengan ritual rebutan atau rayahan. Menurut kepercayaan mengandung barokah dari yang maha kuasa atas limpahan karunia yang diberikan-Nya.

Setelah ritual selesai dilakukan,Ancak lantas diyandu untuk dibawa pulang ke dusun masing-masing dengan iringan sejumlah kesenian dan atraksi kembali secara tertib berurutan. Disusul dibelakang kesenian pengarak ancak, para punggowo desa dan lembaga desa, Ibu Bapak perangkat Desa dan Para remaja putri tersusun berurutan berbaris seperti semula,menuju pos pemberangkatan (Rumah Kepala Desa)

  1. Langen Tayub-Mujahadah

            Untuk melestarikan adat budaya leluhur ternyata tidak mudah seperti

biasa orang mengatakan.

Pada tahun sebelum 1965 . ritual Amerti Bumi Desa dilaksakan satu hari sebelumnya yaitu hari kamis kliwon samapai dengan malam Jum’at Legi,diadakan Langen Suko atau Langen Tayub satu hari satu malam,tempat biasa dilakukan di Balai Rakyat,Pendopo Kadenangan sebagai titik utama pagelaran. Untuk melaksanakan  ritual Langen Tayub mengundang ledek tayub Beserta para niaga/penabuh gamelan dan sinden dari luar Desa atau lain daerah yang ada diparogo tayubnya.

Tujuan dilaksanakan pegelaran Lengan Tayub satu hari satu malam antara lain:

  1. Melestarikan adat istiadat leluhur.
  2. Mensyukuri segala Anugrah yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
  3. Menurut masyarakat setempat Langen Tayub dapat menjauhkan kita dari wabah saraf sawan yang menjangkit pada anak-anak usia dibawah 8 tahun.
  4. Menghibur warga masyarakat serta pengunjung.

Selanjutnya sesuai dengan pernyataan diatas,melestarikan budaya tidak semudah orang berkata,jaman semakin berkembang,budaya yang tidak sesuai dengan peradaban lingkugnan tergusur dari permukaan tidak mungkin berkembang makin sudut dibuatnya.pernah generasi penggantinya. Budaya Langen Tayub punah. Setelah budaya Langen Tayub hapus. Rangkaian upacara Ametri Bumi Desa Tawang dianggap kurang. Munculah gagasan dari sesepuh adat tokoh agama dan ulama diperkuat para umarok, sebagai pengganti rangkaian itu, tiada lain “Mujahadah” permohonan do’a atau pujian kepada Yang Maha Kuasa secara berjama’ah.

Dukungan dari warga masyarakat besar sekali tentang Mujahadah dilakukan,maka sudah ketetapan setiap acara ritual Ametri Bumi Desa Tawang. Malam Hari Jum’at legi di gelar Mujahadah Akbar,bertempat di Pendopo Balai Desa Tawang. Diawali Shalat Maghrib dan Isya’ serta berjamaah,dilanjutkan Shalat Istisqo dan bermunajat atau Mujahadah ,permohonan untuk meminta air, karena ini musim kemarau hampir seluruh Dusun kekurangan air. Juga berharap kedepan selalu mendapatkan berkah dan rezeki melimpah,keselamatan,ketentraman dan kesejahteraan.

  1. Sadranan . sadranan ini dilakukan oleh masyarakat atau yang mempunyai keluarga yang dimakamkan dimakam tersebut, Desa Tawang banyak terdapat tempat makam , ada 11 tempat makam yang tidak perlu kami sebutkan satu persatu, pelaksanaan sadranan sangat berbeda waktu , ada pelaksanaan dilakukan pada bulan Arwah (syakban)ada pula dilakukan lain bulan.yang jelas ritualnya tidak sama.

Seperti biasa ,sebelum ritual dimulai dilakukan ceramah dan pengajian. Saat menunggu ceramah selesai,mengumpulkan sedhekah uang yang hasilnya untuk kegiatan pembangunan makam. Dengan upacara  sadranan mengandung makna yang lebih. Terbukti warga/putra desa yang ada di luarkota menyempatkan pulang untuk mengikuti upacara sadranan.

  1. Spiritual. Di Desa Tawang ada tempat berziarah yang juga untuk ritual :
  • Makam Nyai Agung Warno sebagai cikal bakal
  • Sendang Kahuripan yang airnya sangat beda dengan sendang-sendang yang lain,walaupun Desa Tawang banyak akan Sendang,pada umumnya Sendang airnya berwarna jernih,namun sangat berbeda dengan sendang Kahuripan yang warna airnya biru alami, Sendang ini mengandung sugesti,karna sendang ini berkat mukjizat Nyi Agung Warno, siapa saja yang mau melakukan ritual ke makam Nyi Agung Warno,sebelumnya harus mandi kramas  disendang tersebut agar suci lahir batinnya, apa sebab dikatakan mengandung sugesti,karena sering digunakan sebagai pengobatan.bagi siapa saja yang menderita sakit atas ujian Allah SWT,apabila mandi di sendang tersebut akan diberikan kesembuhan seperti sedia kala.
  • Batu Candhi berbentuk Mahkota Wisnu.

Pada jaman Pemerintahan Kerajaan kediri, sistem pemerintahan kerajaan Kediri terjadi beberapa kali pergantian kekuasaan, dari raja ............ ke Kahuripan 1019 M – 1049 M.

.......... pecah menjadi 2 yaitu:

  1. Kerajaan  ………….. dengan Ibukota Kahuripan
  2. Kerajaan Kediri  ..... Ibukota ....

Kedua kerajaan tersebut melakukan perang saudara berakhir dengan kemenangan Kedri,dua kerajaan berakhir di persatukan dibawah kekuasaan kediri.

Pada jaman kerajaan Kediri di perintah oleh seorang Raja yang bernama Shri Jaya Warsa Digdaya Shastraprabhu sebagai Raja pertama Kediri,ia menemukan dirinya sebagai titisan Wisnu. Pada jaman itu ,menganut agama Hindu ,perkembangannya sangat pesat sekali, baik agama dan kekuasaannya , dari Jawa Timur sampai dengan Jawa Tengah di buktikan dengan Saksi Sejarah Batu Candhi Berbentuk Mahkota Wisnu yang ada di Desa Tawang, diperkirakan di Tawang merupakan wilayah perpindahan pemerintahan Kerajaan Kedri sebagai perencanaan tempat tinggl Raja pada jaman dahulu, dengan kondisi Batu Candhi masih utuh 90%

  • Kesenian Reog Turonggo Seto (Ponorogo)

Reog Turonggo Seto ini sudah mendapatkan nilai jual karena sering kali mendapat tawaran dari dalam maupun luar desa atau pun acara khusus Instansi Ibukota Kecamatan Kabupaten.

Siapa saja yang berminat bisa menghubungi ketua : Edi Sutarjo

HP:

  • Sentral anyam-anyaman rakyat:

Desa Tawang merupakan pusat anyam-anyaman rakyat,antara lain:

  1. Bakul besar / tenggok (dalam bahasa Jawa)
  2. Besek
  3. Cething
  4. Kalo
  5. Kukusan
  6. Tumbu
  7. Tampir/ irih
  8. Lidi
  9. Sarang burung

10.Cidera mata

Dan masih banyak lagi.

Beraneka ragam produksi anyam-anyaman warga desa Tawang semua dipasarkan keluar lokal/pemesan 5 hari sekali disamping untuk kebutuhan rumah tangga sendiri,demi untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari.

Kegiatan itu untuk menopang kelangsungan hidup warga masyarakat pada umumnya siapa saja yang membutuhkan bisa pesan langsung ke masing-masing rumah tangga.

 

 

Demikian sekilas khasanah budaya Desa Tawang Kec. Susukan,Kab.Semarang

Terima  kasih

 

Oleh :triyanto Hadi kruwet

 

 

ALBUM